Assalamu'alaikum wr wb
Nama saya Cahaya. Nama yang diberikan oleh kakak perempuanku saat tali pusar lepas dari perut saya. saya adalah anak terakhir dari keempat bersaudara. kakak pertama saya bernama budi. dia seorang laki-laki yang gagah, bertubuh besar dan bermuka garang. saya paling takut padanya.
Widya kakak saya yang ke dua. dia perempuan, cantik seperti ibuku. dia satu-satunya kakak perempuan yang saya miliki. dia yang memberiku nama cahaya. Dan kakak yang terakhir bernama yanto. Semua kakak-kakak ku sudah menikah. hanya saya yang belum menikah.
Hidup saya sangat bahagia. saya tinggal dirumah yang besar dan apapun yang saya mau selalu dituruti oleh bapak dan ibu. 15 tahun berlalu bapak sakit keras. tetapi tidak mau dirawat.
Ibu saya sangat kawatir dengan keadaan bapak saya. "Buk, sepertinya sudah saatnya bapak memberikan wasiat harta kepada anak kita. bapak takut umur bapak sudah tidak lama lagi" kata bapakku yang kemudian dijawab ibu. "jangan ngomong begitu pak. pamali". kata ibu.
"Tapi buk. bapak kawatir dengan anak kita. Bapak kawatir mereka bertengkar memperebutkan harta. saya takut ini berdampak tidak baik bagi mereka". Sebenarnya anak bapak cuma aku dan kak budi, Aku 4 bersaudara. Namun keluarga bahagia ini pernah mengalami cerita yang cukup rumit. Bapak pernah menikah 4 kali sebelum kenal ibuku. Istrinya yang ke4 punya anak kembar, Budi dan Budiman. Namun budiman meninggal waktu bayi. Sedangkan ibu dulu pernah menikah dengan orang arab, dipernikahan mereka lahir kedua kaka ku Widya dan Yanto. Istri Bapak sudah wafat, dan Ibu bercerai dengan Suaminya yang tergoda oleh wanita lain. Lalu Bapak dan Ibuku bertemu, Menikah. Dan lahirlah Aku.
Selepas perkataan bapak tadi ibu hanya diam dan sedikit mengiyakan perkataan bapak.
Sudah satu minggu bapak sakit keras. tapi belum ada kemajuan. saat itu semua kakak ku sudah tidak tinggal bersama orang tua. hanya saya dan ibu saya yang merawat bapak. dan bapak dokter yang sesekali datang untuk memeriksa kondisi beliau. malam itu saya ingin sekali pergi jalan-jalan bersama teman saya. Ani dan Permata. namun, ibu tidak mengijinkan saya pergi dan menyuruh saya untuk tetap dirumah. "saya bosan ibu" kataku. "sudah dirumah saja. mainnya besok pagi saja" kata belau. saya marah dan kecewa tidak diizinkan pergi. tak sengaja saya membanting pintu dekat kamar bapak. lalu ke kamar untuk tidur.
Kejadian itu membuat bapak shock dan kejang. saya tidak tau apa yang terjadi. pukul 3 dini hari tepatnya malam rabu ibu membangunkanku. Ibu bilang bapak sudah meninggal. ya Allah saya semakin merasa bersalah saat itu. apa bapak meninggal karenaku? saya membanting pintu terlalu keras tadi malam. sehingga bapak mungkin kaget dan seperti ini. Maafkan saya pak. hingga saat ini saya belum bisa membahagiakan bapak.Saya terlalu takut. hingga sampai bapak disholatkan dan dikuburkan saya hanya bisa diam dan meneteskan air mata. ya Allah. saya salah besar ke Bapak. saat saya marah semalam bapak memanggil saya sekali. tapi saya tidak menghiraukan dan pergi tidur. Seandainya waktu itu bisa diulang sebentar saja. saya tidak akan pergi pak. saya mau minta maaf ke Bapak. saya sayang Bapak. maafkan saya pak. saya tidak bermaksud kasar pada orang tua. maafkan saya tidak bisa mengontrol emosi saya waktu itu. saya menyesal. Semoga bapak tidak marah dengan saya. Saya terus bedoa kepada Allah supaya bapak mendapatkan tempat yang baik disisinya.
Nama saya Cahaya. Nama yang diberikan oleh kakak perempuanku saat tali pusar lepas dari perut saya. saya adalah anak terakhir dari keempat bersaudara. kakak pertama saya bernama budi. dia seorang laki-laki yang gagah, bertubuh besar dan bermuka garang. saya paling takut padanya.
Widya kakak saya yang ke dua. dia perempuan, cantik seperti ibuku. dia satu-satunya kakak perempuan yang saya miliki. dia yang memberiku nama cahaya. Dan kakak yang terakhir bernama yanto. Semua kakak-kakak ku sudah menikah. hanya saya yang belum menikah.
Hidup saya sangat bahagia. saya tinggal dirumah yang besar dan apapun yang saya mau selalu dituruti oleh bapak dan ibu. 15 tahun berlalu bapak sakit keras. tetapi tidak mau dirawat.
Ibu saya sangat kawatir dengan keadaan bapak saya. "Buk, sepertinya sudah saatnya bapak memberikan wasiat harta kepada anak kita. bapak takut umur bapak sudah tidak lama lagi" kata bapakku yang kemudian dijawab ibu. "jangan ngomong begitu pak. pamali". kata ibu.
"Tapi buk. bapak kawatir dengan anak kita. Bapak kawatir mereka bertengkar memperebutkan harta. saya takut ini berdampak tidak baik bagi mereka". Sebenarnya anak bapak cuma aku dan kak budi, Aku 4 bersaudara. Namun keluarga bahagia ini pernah mengalami cerita yang cukup rumit. Bapak pernah menikah 4 kali sebelum kenal ibuku. Istrinya yang ke4 punya anak kembar, Budi dan Budiman. Namun budiman meninggal waktu bayi. Sedangkan ibu dulu pernah menikah dengan orang arab, dipernikahan mereka lahir kedua kaka ku Widya dan Yanto. Istri Bapak sudah wafat, dan Ibu bercerai dengan Suaminya yang tergoda oleh wanita lain. Lalu Bapak dan Ibuku bertemu, Menikah. Dan lahirlah Aku.
Selepas perkataan bapak tadi ibu hanya diam dan sedikit mengiyakan perkataan bapak.
Sudah satu minggu bapak sakit keras. tapi belum ada kemajuan. saat itu semua kakak ku sudah tidak tinggal bersama orang tua. hanya saya dan ibu saya yang merawat bapak. dan bapak dokter yang sesekali datang untuk memeriksa kondisi beliau. malam itu saya ingin sekali pergi jalan-jalan bersama teman saya. Ani dan Permata. namun, ibu tidak mengijinkan saya pergi dan menyuruh saya untuk tetap dirumah. "saya bosan ibu" kataku. "sudah dirumah saja. mainnya besok pagi saja" kata belau. saya marah dan kecewa tidak diizinkan pergi. tak sengaja saya membanting pintu dekat kamar bapak. lalu ke kamar untuk tidur.
Kejadian itu membuat bapak shock dan kejang. saya tidak tau apa yang terjadi. pukul 3 dini hari tepatnya malam rabu ibu membangunkanku. Ibu bilang bapak sudah meninggal. ya Allah saya semakin merasa bersalah saat itu. apa bapak meninggal karenaku? saya membanting pintu terlalu keras tadi malam. sehingga bapak mungkin kaget dan seperti ini. Maafkan saya pak. hingga saat ini saya belum bisa membahagiakan bapak.Saya terlalu takut. hingga sampai bapak disholatkan dan dikuburkan saya hanya bisa diam dan meneteskan air mata. ya Allah. saya salah besar ke Bapak. saat saya marah semalam bapak memanggil saya sekali. tapi saya tidak menghiraukan dan pergi tidur. Seandainya waktu itu bisa diulang sebentar saja. saya tidak akan pergi pak. saya mau minta maaf ke Bapak. saya sayang Bapak. maafkan saya pak. saya tidak bermaksud kasar pada orang tua. maafkan saya tidak bisa mengontrol emosi saya waktu itu. saya menyesal. Semoga bapak tidak marah dengan saya. Saya terus bedoa kepada Allah supaya bapak mendapatkan tempat yang baik disisinya.
Komentar
Posting Komentar